Google dan Jihad Digital di Dunia Maya

Seiring dengan perkembangan masyarakat yang ditandai oleh perubahan sosial yang komplek akibat modernisasi, globalisasi, dan reformasi yang mempengaruhi kondisi

dan dinamika kehidupan masyarakat, maka Islam semakin dihadapkan pada masalah dan tantangan baru dalam gerakan dakwahnya.

Dalam buku Islam dan Dakwah (1988) dinyatakan bahwa, dakwah adalah panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah (Q.S. Yusuf : 108), yaitu jalan menuju Islam (Q.S. Ali Imron : 19). Dakwah juga sebagai upaya tiap muslim untuk merealisasikan (aktualisasi) fungsi kerisalahan dan fungsi kerahmatan.

Fungsi kerisalahan dari dakwah ialah meneruskan tugas Rasululloh (Q.S. Al-Maidah : 67), menyampaikan dinul Islam kepada seluruh umat manusia (Q.S. Ali Imron : 104, 110, 114).

Sedangkan fungsi kerahmatan berarti upaya menjadikan (mengejawantahkan, mengaktualkan, mengoperasionalkan) Islam sebagai rahmat (penyejahtera, pembahagia, pemecah persoalan) bagi seluruh manusia (Q.S. Al-Anbiya : 107).

Pada saat ini pertumbuhan dan perkembangan komunitas di masyarakat semakin pesat dan heterogen, yang melahirkan beragam kelompok-kelompok minat, kegiatan, dan afilisasi sosial baru baik di pedesaan lebih-lebih di perkotaan. Kelompok-kelompok khusus dalam masyarakat tersebut seakan ingin kembali pada kehidupan yang lebih spiritual, damai, dan berada dalam akar budaya mereka sendiri.

Komunitas berasal dari bahasa latin “communitas” dan dalam bahasa Inggris “community” yang berarti kesamaan. Komunitas (community) ialah kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat yang memiliki sifat atau karakter tertentu yang spesifik. Beragam komunitas berkembang di masyarakat yang dapat dikategorisasikan dalam komunitas kelompok atas, menengah, bawah, marjinal, dan komunitas-komunitas khusus yang diikat oleh kesamaan minat, hobi, dan kepentingan lainnya.

Kurun terahir bahkan lahir komunitas virtual (virtual community), yang sering disebut kelompok sosial media (sosmed), atau komunitas maya (cyber community) sebagai realitas baru dalam hubungan antar sesama melalui media virtual yang sangat masif.

Komunitas virtual itu heterogen, mereka bergabung dalam “jamaah” facebookers, tweeters, bloggers, monitor (pendengar radio), breakers, komunitas situs web, online news, sineas, dan lain-lain. Dari perpektif media dakwah, kehidupan dunia maya secara umum dan media sosial secara khusus merupakan realitas baru yang belum banyak digarap oleh umat Islam baik yang tergabung dalam Ormas Islam Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, maupun ormas Islam lainnya.

Padahal segmen ini  merupakan wilayah yang bukan saja sangat potensial karena telah memiliki komunitas yang banyak anggotanya, tetapi juga strategis karena kehidupan masyarakat yang akan datang semakin tergantung kepada teknologi informasi dan komunitas dunia maya.

Menurut data yang dirilis oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet di Indonesia, diperkirakan pengguna internet di Indonesia mencapai jumlah 77 juta pada tahun 2013, meningkat lagi menjadi 107 juta di tahun 2014, dan diperkirakan pada akhir 2015 sudah akan mencapai 139 juta orang, atau sekitar separoh dari seluruh jumlah warga negara Indonesia.

Memanfaatkan dunia maya sangat penting karena memiliki jangkauan yang sangat luas dan hampir tanpa batas. Perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan perubahan media pembelajaran dari guru personal kepada guru impersonal, dari sifat komunal menjadi individual. Pesan-pesan dakwah melalui dunia maya sangat penting untuk menyebarkan informasi Islam atau bahkan menjawab tantangan informasi yang berlawanan arah dengan dakwah Islam itu sendiri.

Kehebatan para komunitas virtual di bidangnya tidaklah sempurna, ia mengalami kegersangan spiritulitas disisi hati terdalamnya. Melalui media maya mereka melakukan pencarian untuk mengobati kehausan spiritual mereka. Namun, guru mereka bukan Syeh Imam Nawawi Al-Bantani, Kyai mereka bukan Kyai Mustofa Bisri, Ustadz mereka bukan Ustadz Jefri maupun UWI (Ustadz Wijayanto), Dosen merekapun juga bukan Profesor Buya Syafi’i. Tetapi guru dan dosen mereka adalah “Hadratus Syeh Mbah Google”.

Berbeda komunitas (objek dakwah) tentu berbeda pula pendekatan, bahasa dan media dakwah yang digunakan. Dakwah lewat ceramah diatas mimbar dengan metode konvensional sudah perlu dievaluasi bahkan pada saatnya akan tertinggal. Dakwah harus memanfaatkan berbagai media yang ada agar hasilnya efektif dan efisien. Dakwah melalui sarana multimedia dalam hal ini dengan memanfaatkan dunia maya (berupa situs web, youtube dan lainnya) merupakan jihad digital (informasi) yang harus dilakukan oleh umat islam terutama oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai mainstream Islam di Indonesia.

Peran media cetak maupun elektronik bukanlah hal yang sepele. Tenarnya Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dikoordinatori oleh Dr. Ulil Abshor Abdalla karena rajinnya ia menulis artikel dan informasi melalui media. Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) yang menjadi corongnya pernah menyentak khalayak melalui media koran Jawa Pos. Sosok Adryan Fitra yang masih muda dinobatkan oleh Google sebagai orang berpenghasilan terbesar di Indonesia sebagai Adsense Publisher, akhirnya ditarik oleh Jokowi sebagai tim kampanye online nya.

Dakwah Islam dilaksanakan dengan cara-cara dakwah sebagaimana perintah Allah dan dicontohkan oleh Rosululloh SAW. Allah berfirman :
أدع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي احسن

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik”.

Hikmah adalah hal yang utama dari segala sesuatu baik lisan maupun perbuatan yang lahir dari perpaduan ilmu dan kearifan. Al-Mau’idzoh Hasanah yakni uraian yang menyentuh hati yang mengantar pada kebaikan.
وجادلهم بالتي هي احسن

yakni berdialog dengan argumentasi paling baik.

Rasulullah SAW berdakwah selama sekitar 23 tahun dengan cara-cara yang bertahap, dan model maupun media yang bervariasi dalam pembinaan aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalah sehingga tercapai kehidupan Al-Madinah Al-Munawwaroh, yakni suatu peradaban yang tercerahkan.

Dalam buku Dakwah Kultural (2004) dinyatakan bahwa dakwah merupakan upaya menanamkan nilai-nilai Islam dalam seluruh dimensi kehidupan. Seberapa besar dan efektifkah penanaman nilai dan informasi keislaman melalui media elektronik berupa situs web atau internet bagi masyarakat umum maupun komunitas virtual khususnya?.

Fasilitas Whatshap yang kini biasa digunakan masyarakat memudahkan mengakses bahkan menshare berbagai informasi kepada group yang jumlahnya amat banyak. Diantara pengguna WA, Tweeter, Facebook, Instagram dan lainnya seringkali men-share informasi-informasi yang diambil dari situs maupun web. Kalimat bijak Arab mengatakan:
الطريقة اهم من المدة

“Metode, media, maupun strategi lebih penting dari isi materi”.

Sebagus apapun materinya jika disampaikan dengan metode dan media yang salah atau kurang tepat, maka akan berbuah tidak maksimal. Sehingga cara kita menyampaikan sebuah kebenaran seringkali sebanding dengan kebenaran itu sendiri. masyarakat kita sudah pindah ke dunia maya. Hampir semua menggenggam alat komunikasi HP android yang dilengkapi fasilitas browser, whatshap maupun jejaring sosial facebook.

Setiap saat mereka membuka dan mengakses informasi dimanapun dan kapanpun tanpa batas waktu, kemudian membagikan ulang pada yang lain. Dalam waktu yang sangat singkat informasi tersebut akan tersebar. Jika itu adalah informasi nilai-nilai keislaman, bukankah itu merupakan jihad dakwah digital lewat Google yang amat luar biasa?.

Umat Islam melaui organisasi-organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam seperti Muhmmadiyah dan Nahdlatul Ulama telah mempelopori dakwah melalui dunia maya tersebut. Namun intensitas dan kapasitasnya masih terbilang rendah dibandingkan dengan komunitas yang harus dijangkau.

Menariknya, perilaku 'search engine' pengguna, sebagai contoh, bisa jadi pengunjung terbesar di web muslim.or.id bukan saja anggota loyalnya sendiri, namun masyarakat umum yang mengetik kata kunci tertentu di mesin pencari (search engine) lalu akan terhubung ke muslim.or.id.

Kata kunci “isbal” misalnya, ia akan muncul justru di baris ke-2 setelah wikipedia. Berbeda dengan pwmu.com dan hizbut-tahrir.or.id, tingginya pengunjung pada situs tersebut mayoritas penggunanya dari kelompok mereka sendiri, kecuali untuk Hizbut Tahrir dengan kata kunci “khilafah”.

Jika ada masyarakat umum mengetik kata “isbal” di mesin pencari ia akan dibawa ke situsnya Salafi dan memahami isbal dalam perpektif Salafi. Jika ada masyarakat umum mengetik kata “khilafah” di mesin pencari ia akan dibawa ke situsnya Hizbut Tahrir dan memahami konsep khilafah dalam perpektif Hizbut Tahrir.

Lebih lucu lagi jika terdapat simpatisan Muhammadiyah mencari naskah khutbah Jum'at dengan mengetik kata kunci “khutbah” maka ia akan dibawa untuk mencermati bahkan memakai materi khutbah di NU.or.id, kemudian dai tersebut mempraktekkannya berkhutbah di lingkungan Muhammadiyah padahal kaifiyahnya sedikit berbeda.

Jangan heran jika komunitas pengusung khilafah serta komunitas berjenggot dan berjubah semakin banyak bertebaran di Indonesia padahal secara mainstream Islam di Indonesia merupakan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Tidak tertutup kemungkinan jika itu terjadi karena manajemen dakwah lewat dunia maya yang dikemas secara 'apik' dan menarik. Sungguh betapa luar biasa, efektif dan efisiennya dakwah multimedia melalui dunia maya. Inilah peluang dan ladang jihad digital bagi kita yang baru untuk berdakwah lewat media internet untuk menciptakan peradaban yang tercerahkan. ● Idris M.
Penulis adalah Dosen Unmuh Jember dan telah menulis buku-buku Islami yang diterbitkan oleh Dianloka Pustaka Jogja.
Referensi, Q.S. An-Nahl : 125, Syamilul Quran. Hal. 281; Shihab, 2009. Dalam PP Muhammadiyah, “Model dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas”, 2015. Makassar.(ZA)