Deputi Bidang Pendidikan & Modernisasi Agama Sapa Mahasiswa Baru di PKK PIMB UM Jember Tahun Akademik 2020-2021

     Memasuki tahun baru akademik 2020-2021, Universitas Muhammadiyah Jember menggelar PKK PIMB (Pengenalan Kehidupan Kampus dan Pembinaan Ideologi bagi Mahasiswa Baru) secara daring. Diikuti oleh 1300 lebih mahasiswa baru yang tersebar di 9 fakultas, mereka antusias mengikutinya walaupun tahun ini dilakukan secara berbeda. Melalui Zoom dan Youtube, mahasiswa baru diwajibkan memakai pakaian putih dan beralmamater serta menyimak dengan baik selama prosesi acara berlangsung. Dilaksanakan secara daring, Rektor UM Jember menegaskan bahwa harus tetap mematuhi aturan pemerintah dengan tidak mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak orang. “Tidak akan mengurangi ke khidmatan penyambutan mahasiswa baru meskipun tahun ini dikemas dengan cara berbeda.”

     Di awal acara, mahasiswa baru dikenalkan dengan UKM yang ada di UM Jember diantaranya UKM Teater Oksigen, Palang Merah Remaja, Tapak Suci, Badan Eksekutif Mahasiswa, Musik, dan masih banyak lagi. Dihadiri pula Prof. Dr. R. Agus Sartono, MBA, Deputi Bidang Koordinator Peningkatan Pendidikan & Moderenisasi Agama. Beliau menjelaskan tentang internalisasi nilai-nilai keislaman yang berkaitan dengan IPTEK. Seperti yang sudah dijelaskan dalam QS. Ali Imran : 190 yang artinya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” Hendaknya, seorang yang berilmu dan berakal memasukkan nilai-nilai agama secara penuh ke dalam hati. “Sehingga ruh dan jiwa bergerak berdasarkan agama islam.” ujarnya.

    Kelanjutannya yaitu di ayat 191 yang memberikan definisi ciri-ciri orang yang berakal yaitu: orang-orang yang memikirkan penciptaan langit dan bumi lalu mereka berdoa, Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka. Maka, bagi umat islam, umur yang diberikan mulai dari lahir sampai menemui ajal harus diisi dengan hal yang bermanfaat semaksimal mungkin salah satunya yaitu menuntut ilmu. “Ilmu yang dikuasai manusia belum ada setetes air yang ada di lautan, maka teruslah mencari ilmu.” jelas pria yang juga menjadi dosen di UGM tersebut. Ilmu yang dimiliki pun harus diimbangi dengan ketakwaan sehingga tak muncul sifat congkak.

     Seperti sekarang, di tengah pandemic Covid-19 yang belum juga berakhir, orang berilmu dan bertakwa, akan memaknai kondisi ini sebagai salah satu bentuk ujian dari Allah. Tugas manusia ya berikhitiar dan berdoa, tidak perlu bersuudzon, ungkapnya. Di akhir sesi, Agus, sapaan akrabnya memberikan pesan bahwa ada 3 poin yang harus diterapkan sebagai seorang cendikiwan yaitu knowledge, skill, dan attitude. Tak akan maksimal studi yang dilakukan apabila tidak ada knowledge atau pengetahuan yang nantinya bisa diterapkan untuk kehidupan sosial. Namun tak hanya pengetahuan, ketrampilan juga poin penting selanjutnya yang harus dimiliki, “Kembangkan dan gali potensi yang ada di dalam dirimu.” Knowledge dan skill nantinya akan disempurkan oleh attitude.

     Setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki oleh seseorang, apabila attitudenya jelek, maka tidak akan dihormati oleh orang lain.

 

Search