Pengabdian Dosen, UM Jember berikan Jembatan untuk Masyarakat di Desa Sukogidri, Ledokombo

    Masyarakat Desa Sukogidri yang akan menuju Dusun Sumbernangka ke Dusun Krajan atau sebaliknya tak lagi repot menempuh jarak yang jauh. Pasalnya, sudah terbangun jembatan yang menghubungkan antara kedua dusun tersebut. Berkat pengabdian dosen UM Jember, Dr. Muhtar, S.T., M.T., jembatan resmi dioperasikan mulai 8 September 2020.

    Diresmikan oleh Rektor UM Jember, Dr. Hanafi, MPd, Jumat (14/8/2020), beliau berujar dengan adanya jembatan ini berharap agar Desa Sidogdri tidak menjadi daerah yang terisolir. Beliau berujar, proyek ‘Bangunan pemanfaatan Bambu’ oleh Mukhtar ini bahkan masuk ke dalam salah satu karya kualitas dunia dan masuk jurnal internasional. “Saya sebagai rektor turut berbangga atas pencapaian beliau.” ujar lelaki yang kerap disapa Hanafi. Turut hadir pula dalam Camat Kecamatan Ledokombo, Jono Wasinudin dalam peresmian jembatan tersebut.

    Tak hanya melalui program ini, selanjutnya, melalui program lain hubungan UM Jember dengan pemerintah desa akan berlangsung terus menerus. Salah satunya ialah program satu desa satu dosen yang akan memberdayakan desa dengan menggandeng BumDes setempat. Hanafi berpesan kepada masyarakat agar bersama-sama menikmati dan merawat bersama fasilitas berupa jembatan yang dimiliki. “Semoga semua orang yang terlibat dalam terbangunnya jembatan ini selamat dunia dan akhirat karena telah memudahkan urusan orang lain.” ungkap Hanafi.

    Dalam kesempatan yang sama, Purnoto, Kepala Desa Sukogidri mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Allah SWT dan pihak UM Jember yang telah mendanai dan memfasilitasi sehingga terbangunnya jembatan ini. Purnoto berujar bahwa keberadaan jembatan sangatlah berpengaruh terhadap kehidupan di dua dusun. Awalnya, masyarakat yang akan menuju ke Dusun Sumbernangka menuju Dusun Krajan atau sebaliknya harus menempuh jarak sekitar 5km. Namun, sekarang, dengan jarak 2km akses sudah bisa dilalui. “Selain menghemat waktu, juga akan menghemat bahan bakar.” terang Purnoto. Apalagi untuk kendaraan pengangkut hasil panen bisa menghembat 0,1 bahan bakar yang akan berpengaruh kepada keuntungan.

    Selain faktor jarak dan waktu tempuh, keberadaan jembatan ini juga berpengaruh terhadap daya jual tanah di sekitarnya. Semula, tanah yang dijual dengan harga 30 juta, berkat ada jembatan, ditawar dengan harga 50 juta saja tidak mau. Purnoto berujar, program ini merupakan salah satu upaya pemerintah desa dalam mengelola tata kota, dan menjadi bukti bahwa Desa Sukogidri telah melepas statusnya dari desa tertinggal.

    Pada penutup, Kepala Desa mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen desa mulai dari perangkat desa, masyarakat sampai para tukang yang membangun jembatan tersebut. “Ini semua tercipta bukan hanya kerja dari perangkat desa, tetapi dari masyarakat semuanya.” Sebagai tambahan, dalam peresmian jembatan Desa Sukogidri, juga dilakukan pelepasan burung Dara oleh komunitas pecinta burung Dara di daerah setempat.

Search