Deteksi Dini Kanker Payudara pada Masyarakat, Dosen FIKES UM Jember Bentuk Kader Kesehatan

Dilatarbelakangi oleh masih tingginya angka kematian perempuan dalam kesehatan reproduksi, dimana kanker payudara menjadi penyebab kedua kematian dari perempuan setelah kanker serviks. World Health Organization (WHO) pada tahun 2010 menyebutkan bahwa kanker payudara merupakan kanker tersering yang terjadi pada wanita Indonesia dengan insiden sebanyak 8.082 kasus atau (18,4%). Penyakit kanker payudara prevalensinya adalah sebanyak 0,5% yang merupakan jumlah terbanyak setelah kanker serviks sebesar 0,8%. Sedangkan estimasi jumlah kanker payudara di Jawa Timur adalah terbanyak kedua sebesar 9688 kasus setelah Propinsi Jawa Tengah sebesar 11.511 kasus. Kejadian ini meningkat seiring dengan kondisi menopause dimana fungsi hormonal sudah tidak seimbang dan mengalami penurunan sehingga fungsi kekebalan atau imunitas juga akan menurun. Tetapi pada saat ini fenomena bergeser dari paska menopause menjadi pada semua tingkat usia, bahkan pada usia remaja. Dosen Fakultas Kesehatan UM Jember, Luh Titi Handayani, M.Ali Hamid dan Hendra Kurniawan memberikan bentuk jasa dalam program pengabdian kepada masyarakat dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi dimasyarakat. Program ini sekaligus sebagai salah satu bagian dari tugas tri dharma perguruan tinggi dengan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Program yang didanai ini oleh a. Hal yang melatarbelakangi dari bentuk jasa yang diberikan dengan topik peran kader dalam melakukan deteksi dini dalam pencegahan kanker payudara.

Menurut Ibu Luh Titi Handayani dalam perspektifnya menjelaskan bahwa, permasalahan penyakit kanker payudara tidak dapat dipandang remeh. Angka kematian akibat kanker payudara juga sangat besar persentasenya, maka perlu dilakukan upaya sedini mungkin untuk melakukan antisipasi tanda dan gejalanya. Penemuan kasus sejak dini menjadi langkah penting untuk melakukan tindakan tepat pengobatan kanker payudara hal ini dikarenakan bahwa penderita kanker payudara mencari pertolongan ke tenaga atau fasilitas kesehatan sudah dalam stadium akhir dan hal ini yang menyebabkan meningkatnya kematian karena kanker. Kecepatan dan ketepatan pengobatan akan dapat meningkatkan angka kesembuhan dan sekaligus akan menurunkan angka kematian akibat kanker payudara. Beberapa risiko yang meningkatkan kejadian kanker payudara antara lain usia, obesitas, gaya hidup, terapi hormonal termasuk penggunaan alat kontrasepsi hormonal jangka panjang, tidak menyusui, genetic, dll. Diskusi dari mitra didapatkan informasi bahwa mitra kurang paham tentang kanker payudara, dan cara pemeriksaan kanker payudara yang dilakukan secara mandiri, tanda dan gejala awal kanker payudara, ketidak tahuan dalam melakukan pemeriksaan dini secara mandiri tanda dan gejala kanker payudara. Fenomena ini tentu perlu solusi guna mengurangi risiko keterlambatan penanganan. Selain penyuluhan kesehatan program ini juga bersama dengan tokoh masyarakat membentuk kader sukarela yang membantu aktif untuk melakukan deteksi dini dengan sadari yang dilakukan 9-10 hari setelah menstruasi bersih. Kader sebagai fasilitator yang akan menindaklanjuti kagiatan ini secara berkelanjutan. Pemberdayaan kader dalam deteksi dini sadari kanker payudara sangat diperlukan. Kader dalam sebagai mediator pesan kesehatan pada kelompok masyarakat terkecil yaitu keluarga.

Copyright © 2017 University of Muhammadiyah || UPT Pusat Data & Informasi